Senin, 19 Maret 2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Padi hibrida merupakan tanaman F1 yang berasal dari persilangan dua galur murni yang berbeda. Di beberapa negara tropis, padi hibrida memberikan hasil lebih tinggi 1-1,5 t/ha dibanding padi inbrida. Namun, tidak semua F1 pada padi hibrida dapat memberikan tingkat heterosis yang tinggi. Efek heterosis yang ada pada padi hibrida memberikan keunggulan dalam hal hasil dan sifat-sifat penting lainnya dibanding padi inbrida. Perbedaan lain antara hibrida dan inbrida adalah dalam perbanyakan benih. Petani harus selalu menanam benih F1 hibrida agar keunggulan yang ada dapat muncul. Benih F1 hibrida dapat diproduksi dengan berbagai cara, antara lain dengan menggunakan sistem galur mandul jantan (galur A). Dengan sistem ini diperlukan tiga tahap perbanyakan benih, yaitu: (1) perbanyakan benih galur A, (2) perbanyakan benih galur pelestari dan pemulih kesuburan (galur R), dan (3) produksi benih F1 padi hibrida.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam produksi benih untuk bahan penelitian padi hibrida dengan sistem galur mandul jantan, diantaranya adalah metode isolation free dan strict isolation. Pada metode isolation free, produksi benih antara dua kombinasi yang berbeda tidak dilakukan isolasi. Metode ini biasanya digunakan untuk memperoleh benih dalam jumlah tidak banyak tetapi kombinasi hibrida yang dibuat banyak, misalnya untuk pengujian persilangan atau observasi. Pada metode strict isolation, di antara dua kombinasi persilangan dilakukan isolasi jarak, selisih waktu tabur atau isolasi rintangan. Petak yang digunakan pada metode strict isolation lebih luas dibanding metode isolation free serta kombinasi hibridanya lebih sedikit. Metode ini digunakan untuk keperluan pengujian dalam skala luas, misalnya uji daya hasil pendahuluan dan uji multilokasi.
Hal lain yang penting dalam memproduksi benih F1 hibrida adalah sinkronisasi pembungaan antara galur mandul jantan (galur A) dan galur pemulih kesuburan (galur R).
1.2 Tujuan
• Untuk mengetahui teknik produksi benih
• Untuk mengetahui faktor-faktor yang harus diperhatikan pada produksi benih hibrida
• Mengetahui pengaturan tabur saat penanaman benih hibrida
• Mengetahui prediksi dan penyesuaian bunga
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teknik produksi benih
Padi hibrida yang merupakan tanaman F1 hasil persilangan antara GMJ (A) dengan galur pemulih kesuburan (R) hanya dapat ditanam satu kali, karena bila hasil panen hibrida ditanam lagi akan mengalami perubahan yang signifikan sebagai akibat adanya segregasi pada generasi F2 sehingga pertanaman tidak seragam dan tidak baik. Oleh karena itu benih F1 harus diproduksi dan petani juga harus selalu menggunakan benih F1.
Produksi benih padi hibrida mencakup dua kegiatan utama yaitu : produksi benih galur tetua dan produksi benih hibrida. Galur tetua meliputi GMJ, B, dan R. GMJ bersifat mandul jantan, produksi benihnya dilakukan melalui persilangan GMJ x B. Galur B dan R bersifat normal (fertil), produksi benihnya dilakukan seperti pada varietas padi inbrida. Benih hibrida diproduksi melalui persilangan GMJ dan R.
Padi hibrida juga berpotensi dikembangkan untuk dapat mengatasi kemandekan produktivitas padi saat ini. Padi hibrida dihasilkan melalui pemanfaatan fenomena heterosis turunan pertama (F1) dari hasil persilangan antara dua induk yang berbeda. Fenomena heterosis tersebut menyebabkan tanaman F1 lebih vigor, tumbuh lebih cepat, anakan lebih banyak, dan malai lebih lebat sekitar 1 t/ha lebih tinggi daripada Varietas unggul biasa (inbrida). Namun keunggulan tersebut, tidak diperoleh pada populasi generasi kedua (F2) dan berikutnya. Oleh karena itu produksi benih F1 dalam pengembangan padi hibrida memegang peran penting dan strategis. Ditinjau dari aspek genetik, PTB dan padi hibrida memiliki potensi hasil yang lebih tinggi, tetapi sistem dan teknologi produksinya berbeda dengan varietas unggul biasa.
2. 2 Faktor- faktor yang harus diperhatikan pada produksi benih padi hibrida
1. Pemilihan lokasi yang tepat, yaitu bersih dari benih-benih tanaman lain, bukan daerah endemik hama dan penyakit utama, tanah subur, cukup air, mempunyai sistem irigasi dan drainasi yang baik, dan tingkat keseragaman (homogenitas) tanah yang tinggi.
2. Kondisi yang cukup optimum, yaitu :
a. Suhu harian 20-30 derajat C
b. Kelembaban relatif 80%
c. Sinar matahari cukup (cerah) dan kecepatan angin sedang
d. Tidak ada hujan selama masa berbunga (penyerbukan)
3. Isolasi dari pertanian padi lainnya
Untuk menghindari terjadinya kontaminasi penyerbukan dari polen yang tidak diinginkan, areal pertanaman produksi benih harus diisolasi dari pertanaman padi lainnya. Ada 3 macam isolasi yaitu: isolasi jarak, isolasi waktu, dan isolasi penghalang fisik.
a. Isolasi jarak
Pada produksi benih F1 hibrida, isolasi jarak dengan pertanaman padi lainnya minimal 50 m, sedangkan pada produksi benih galur A minimal 100 m.
b. Isolasi waktu
Pada isolasi ini perbedaan waktu berbunga antara pertanaman produksi benih dengan tanaman padi disekitarnya minimal 21 hari.
c. Isolasi penghalang fisik
Pada isolasi ini dapat digunakan plastik sebagai penghalang dengan ketinggian 3 m.
4. Perbandingan jumlah baris antara tanaman A dan B pada perbanyakan galur A dan antara tanaman A dan R pada produksi benih F1.
a. Pada perbanyakan benih A, digunakan perbandingan baris tanaman 2B : 4-6A, dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Jarak tanam antar baris tanaman A terluar dengan baris tanaman B terluar adalah 30 cm. Jarak tanam didalam baris B adalah 20 cm.
b. Pada produksi benih F1 hibrida, digunakan perbandingan baris tanaman 2R : 8-12A, dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Jarak tanaman A terluar dengan baris tanaman R terluar adalah 30 cm. Jarak tanam didalam baris R adalah 20 cm.
5. Arah barisan tanaman
Untuk meningkatkan penyebaran polen, arah barisan tanaman galur A dan B atau R dibuat tegak lurus arah angin pada waktu pembungaan.
6. Pengelolaan tanaman
a. Perkecambahan benih
Untuk produksi benih seluas 1 ha diperlukan benih 15 kg galur A dan 5 kg galur B atau R.
• Rendam benih selama 24 jam
• Angin-anginkan benih selama 24 jam
• Tabur benih dengan kepadatan 50-75 g/m2 untuk galur A dan 100 m2 untuk galur B atau R.
b. Persiapan persemaiaan
• Lumpurkan tanah persemaian dua kali dengan interval satu minggu.
• Buat bedengan setinggi 5-10 cm, lebar 1 m dan panjang sesuai petakan sawah.
• Buat saluran pembuangan air dengan lebar 10 cm antar petak persemaian
• Berikan 5-6 g pupuk NPK per m2 yang diaduk dengan tanah.
• Berikan air setinggi 2-3 cm, dan keringkan sekali waktu untuk memperbaiki vigor (kekuatan) bibit.
• Tingkatkan permukaan air sampai 5 cm untuk menekan gulma
• Tingkatkan permukaan air sampai 5 cm untuk menekan gulma.
• Buang gulma (rumput-rumput) yang ada pada persemaian.
c. Pengolahan tanah
• Tanah diolah 15 hari sebelum penanaman bibit
• Pengolahan tanah dilakukan untuk memperoleh tingkat pelumpuran yang tinggi.
d. Penanaman
• Bibit berumur18-21 hari ditanam dengan jumlah bibit 1-2 batang per rumpun.
• Dosis pupuk yang diberikan adalah 135 kg N, 45 kg P, dan 45 kg K/ha.
7. Sinkronisasi, prediksi dan penyesuaian ewaktu berbunga
Hasil benih yang dicapai sangat dipengaruhi oleh sinkronisasi pembungaan antara galur A dengan B, atau antara galur A dengan galur R. Sinkronisasi pembungaan sangat diperlukan untuk terjadinya persilangan antar galur tetua. Sedangkan sinkronisasi pembungaan sangat dipengaruhi oleh lokasi, musim, kondisi lapang, cuaca, dan umur berbunga galur A, B, dan R.
Untuk memperoleh sinkronisasi pembungaan yang baik dapat ditempuh dengan a) pengaturan waktu tabur b) prediksi dan penyesuaian waktu berbunga.
2. 3 Pengaturan waktu tabur
• Produksi benih galur A
Pada umumnya, umur berbunga antara galur A dengan galur B hampir bersamaan. Untuk itu, benih galur A ditabur satu kali.
Benih galur B ditabur dua kali (B1 dan B2) dengan beda waktu 3 hari. Sebagai contoh, tanggal mulai tabur adalah tanggal 1. Benih A dan benih B1 ditabur pada tanggal 1, sedangkan benih B2 ditabur 3 hari setelah penaburan A1 dan B1. Penanaman dilakukan pada saat bibit galur B2 berumur 21 hari, sekaligus bibit A dan B1 yang berumur 18 hari. Bibit A ditanam pada barisan A, sedangkan bibit B1 dan B2 ditanam pada barisan B secara berselang seling dalam perbandingan baris 2B : 6A.
• Produksi benih F1 hibrida
Waktu persemaian galur A dan R disesuaikan dengan umur berbunganya. Sebagai contoh bila umur berbunganya. Sebagai contoh bila umur berbunga galur R lebih lambat 10 hari dari galur A. Benih galur R ditabur 10 hari lebih awal dari galur A. Penaburan galur R dilakukan minimal dua kali (R1 dan R2) dengan beda waktu tabur 3 hari. Penanaman A dan R dilakukan pada saat bibit tersebut berumur 18 – 21 hari. Pengaturan waktu tabur dapat dilihat pada skema dibawah ini.
2. 4 Prediksi dan penyesuaian waktu berbunga
• Prediksi waktu berbunga
Prediksai ini dapat dilakukan dengan cara mengamati terjadinya primodia bunga. Primordia bunga dimulai pada fase pembentukan anakan maksimum. Pembentukan bunga padi padi terdiri atas 10 fase inisiasi yang tingkatanya dapat diamati dan ditentukan berdasarkan panjang calon malai. Terjadinya primodia bunga bervariasi tergantung pada umur varietas, sedangkan waktu berbunga sama untuk semua varietas yaitu 30 harisetelah primordia bunga.
2. 5 Metode untuk menyesuaikan waktu pembungaan
Kasus 1
Tanaman R berada pada fase I, tanaman A berada pada fase III. Kondisi tersebut menyebabkan perbedaan waktu 5 – 6 hari. Solusinya adalah dengan memberikan larutan urea 2 % pada tanaman A dan larutan fosfat 1 % pada tanaman R.
Kasus 2
Tanaman A berada pada fase I, tanaman R berada pada fase IV. Perbedaan waktu berbunga antara A dan R 8 – 10 hari. Solusinya adalah memberikan urea 2 % pada tanaman R dan fosfat 1 % pada tanaman R.
Kasus 3
Tanaman A berada pada fase VI, tanaman R berada pada fase II. Keadaan tersebut menyebabkan perbedaan umur berbunga > 15 hari. Solusinya adalah membuang malai utama tanaman A dan semprotkan larutan urea 2 % pada tanaman A; serta semprotkan larutan fosfat 1 % pada tanaman R.
8. Roguing
Roguing atau membuang tanaman yang tidak diinginkan sangat berguna untuk meningkatkan kemurnian fisik dan genetik benih yang akan dipanen. Oleh karena itu, roguing harus dilakukan secara bertahap.
a. Pada saat pembentukan anakan maksimum
Pembuangan tanaman dilakukan tehadap penyimpangan tinggi tanaman, warna daun, ukuran daun, bentuk daun pelepah daun, warna batang, dan bentuk batang.
b. Pada saat berbunga
Pembuangan tanaman yang menyimpang antara lain berdasarkan pada kriteria umur berbunga yang terlalu cepat atau lambat, tanaman A yang tepung sarinya berwarna kuning dan atau pemunculan malainya sempurna, dan warna serta ukuran malai.
c. Menjelang panen
Pembuangan tanaman yang menyimpang dilakukan terhadap seed set yang tinggi (>50%) ukuran, bentuk, dan warna gabah
9. Pengguntingan daun bendera
Pengguntingan daun bendera ini dimaksudkan untuk memperlancar proses penyerbukan, terutama bagi tanaman yang memiliki posisi daun bendera tegak dan daunnya lebih panjang dari malai. Pengguntingan daun bendera dilakukan pada saat menjelang berbunga dan dengan cara menghilangkan sepertiga sampai setengah bagian panjang daun. Pengguntingan daun bendera juga dapat memperbaiki mikroklimat, sehingga dapat meningkatkan sinkronisasi pembungaan.
10. Polinasi (penyerbukan) tambahan
Penyerbukan tambahan ini dimaksudkan untuk meningkatkan persentase seed set. Caranya adalah dengan menggoyang – goyangkan tanaman B atau R ke arah tanaman A. Penggoyanagan ini dilakukan selama tanaman berbunga, dengan menggunakan tali atau bambu, dari pukul 10 hingga pukul 14 setiap 30 menit.
11. Panen
Untuk memudahkan proses pemanenan dan menjaga kemurnian benih, maka pada produksi benih A, tanaman B dipanen lebih dulu. Sedangkan pada produksi benih F1 hibrida, yang dipanen lebih dulu adalah tanaman R. Pada saat proses perontokan gabah, dijaga jangan sampai terjadi pencampuran antara benih A, B, F1, dan R. Setelah itu, benih dijemur selama 3 – 5 hari atau dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air 11 %.
2. 6 Perakitan Padi Hibrida
Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai pada tahun 1984 dan lebih diintensifkan
sejak 2001. Berbagai galur padi hibrida telah dihasilkan melalui persilangan dengan melibatkan galur mandul jantan sitoplasmik (CMS) atau galur mandul jantan (A), galur
pelestari (B), dan galur pemulih kesuburan (restorer, R).
Dari pengujian dan evaluasi galur tetua dan hibrida introduksi diperoleh beberapa
hibrida harapan. Pada awal tahun 2002, galur IR58025N BR827 dan IR58025NIR53942
masing-masing dilepas menjadi padi varietas Maro dan Rokan. Kedua varietas ini relatif
peka terhadap beberapa hama dan penyakit utama. Oleh sebab itu, pengembangannya perlu diarahkan pada lahan subur dengan pengairan terjamin dan bukan daerah endemik hama dan penyakit. Padi hibrida Rokan dan Maro telah diuji dalam kegiatan program penelitian dan pengkajian (Litkaji) PTT dibeberapa propinsi dan kemudian dikembangkan di 10 propinsi melalui Kegiatan Percontohan Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T) pada tahun 2002-2003.
BAB III
PENUTUP
Padi hibrida juga berpotensi dikembangkan untuk dapat mengatasi kemandekan produktivitas padi saat ini. Padi hibrida dihasilkan melalui pemanfaatan fenomena heterosis turunan pertama (F1) dari hasil persilangan antara dua induk yang berbeda. Fenomena heterosis tersebut menyebabkan tanaman F1 lebih vigor, tumbuh lebih cepat, anakan lebih banyak, dan malai lebih lebat sekitar 1 t/ha lebih tinggi daripada Varietas unggul biasa (inbrida).
Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai pada tahun 1984 dan lebih diintensifkan
sejak 2001. Dari pengujian dan evaluasi galur tetua dan hibrida introduksi diperoleh beberapa
hibrida harapan. Pada awal tahun 2002, galur IR58025N BR827 dan IR58025NIR53942
masing-masing dilepas menjadi padi varietas Maro dan Rokan. Kedua varietas ini relatif
peka terhadap beberapa hama dan penyakit utama.
DAFTAR PUSTAKA
Copeland. L.O. dan M.B. Mc. Donald. 1985. Principles of Seed Science and Technology. Burgess Publishing Company. New York. 369 p.
Damanhuri. T.S. Sudikno dan P. Yudono. 1993. Penurunan Kualitas Fisiologis dan Kimiawi Benih Kedelai dalam Penyimpanan. BPPS – UGM 6 (3B): 297-307.
Hamman. B. ; H. Halmajan and D.B. Egli. 2001. Sigle Seed Conductivity and Seedling Emergence in Soybean. Seed Science and Technology., 29. 575-586.
Fatchurrohim. M. 1975. Hubungan Pemupukan dengan Absorbsi Hara dan Produktivitas Kedelai. Seminar Lembaga Pusat Penelitian Pertanian. 6 Juni 1975. Hal. 4.
Maiwanto, 2003. Hubungan Antara Kandungan Lignin Kulit Benih dengan Permeabilitas dan Daya Hantar Listrik Rendeman Benih Kedelai. Jurnal Alta Agrosia 6(2)
Mugnisyah. W.Q. 1991. Strategi Teknologi Produksi Benih Kedelai untuk Mengatasi Deraan Cuaca Lapang. Makalah Penunjang Seminar Nasional Teknologi Benih III. Univ. Padjadjaran Bandung. 10 p.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar