Rabu, 28 Maret 2012
.....
disaat ku mengenalmu,q belum merasakan rasa seperti ini...aku ngerasa saat dia datang ingin merebutmu dari ku. aku sedih, aku takut kalau rasa mu yang dulu dengannya masih ada. kalau itu ada apa kau akan tinggalkan ku dan kembali dengan dia??walau keadaan yang berbeda??q g sanggup merasakan kalau memang itu terjadi...baru kali ini aku merasa takut akan ditinggalkan, dan baru kali ini aku menemukan cwok impianku dari dulu.
ya allah tolong jaga hati dia buatku ya allah...aku tak kan pernah kecewakan dia lagi dan aku juga tak akan meragukan cintanya lagi ya allah...aku sayang dia, aku gak sanggup kalau dia dimiliki orang lain ya allah.
maafkan aku bee, mungkn dari kemarin-kemarin aku sering kecewakanmu dan aku sering buatmu sakit hati dengan cerita-cerita ku yang terlalu jujur. itu ku lakukan hanya untuk menguji kesabaranmu mencintaiku, dan itu telah engkau tunjukkan ke aku bee. akku sayang kamu bee...akku tak kan sia-sia kan cintamu yang tulus pada ku...aku kan jaga hatimu padaku...love u mas oniel...miss u,,aku menunggumu disini
Senin, 19 Maret 2012
Komponen Neraca Air Kasus 1 (tanaman jagung) Kasus 2 (tanaman gandum)
Periode Waktu 1 Agu – 31 Agu 10 Jun – 30 Sep
Kadar Air dalam profil tanah (pengamatan awal) 300 mm 150 mm
Curah Hujan 70 mm 600 mm
Irrigasi 0 mm 0 mm
Kapilaritas dari Air Tanah Dalam 0 mm 0 mm
Evapotranspirasi Tidak diketahui ? 530 mm
Limpasan permukaan 10 mm 70 mm
Drainasi ke lapisan dalam 0 mm Tidak diketahui ?
Kadar Air dalam profil tanah (pengamatan akhir) 250 mm 60 mm
Nama : NURTIA NI”MATUR ROSYIDAH
NIM : 105040201111086
Kelas : F
Pertanyaan :
1. Berapakah “evapotranspirasi” yang terjadi pada kasus 1 ?
2. Berapa besarnya air yang hilang akibat drainasi ke lapisan lebih dalam pada kasus 2 ?
3. Kedua contoh kasus di atas merupakan perhitungan neraca air dalam periode yang agak panjang (20 hari dan 100 hari). Bagaimana jika neraca air ini harus dihitung setiap minggu (mingguan) dan bagaimana pula jika setiap haris (harian). Apa yang perlu menjadi perhatian (diskusikan !) ?
Irigasi adalah praktek memberikan air kepada tanaman sesuai dengan kemampuan tanah dan kebutuhan tanaman. Dari penjelasan dan contoh kasus di atas, diskusikan dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini :
1. Apakah yang dimaksud dengan “sesuai dengan kemampuan tanah” dalam pernyataan di atas?
2. Apakah yang dimaksud dengan “memberikan air sesuai kebutuhan tanaman” ?
3. Jelaskan dengan ringkas, bagaimana cara mengukur setiap komponen neraca air tersebut !
4. Dari komponen-komponen neraca air yang diuraikan di atas, komponen manakah yang bisa diukur dengan relatif mudah dan komponen mana yang sulit dilakukan pengukuran ? Apa pertimbangannya Sdr mengatakan demikian ?
5. Dari komponen-komponen neraca air tsb, komponen irigasi adalah yang selalu menjadi tujuan akhir dari pertanyaan yang diajukan, sehingga komponen-komponen lainnya harus diketahui. Jika pengukurannya sulit, maka terpaksa harus dilakukan penaksiran, misalnya terhadap komponen evapotranspirasi. Jelaskan bagaimana menaksir evapotranspirasi tanaman ?
Jawaban
Keterangan :
M1 = kadar air dalam profil tanah
M2 = kadar air dalam profil tanah
P = curah hujan
I = irigasi
K = kapilaritas dari air tanah dalam
EV = evapotraspirasi
LP = Limpasan permukaan
D = Drainase kelapisan permukaan dalam
1. M1 - M2 = (P+I+K) – (ET+D+LP)
300 – 250 = 70+0+0) – (ET+0+10)
50 = 70 – ET – 10
50 = 60 – ET
ET = 10
2. M1 + P + I + K = M2+ET+D+LP
150 + 600 + 0 + 0 = 60 +530 + D +70
750 = 660 +D
D = 90
Atau
M1 - M2 = (P+I+K) – (ET+D+LP)
150 - 60 = (600+0+0) – (530+D+70)
90 = 600 – 600 – D
D = -90
3. Evapotranspirasi
Kehilangan air melalui evaporasi mempunyai akibat terhadap fisiologi tanaman secara tidak langsung, seperti mempercepat penerimaan kadar air pada lapisan atas dan memodifikasi iklim mikro di sekitar tanaman. Beberapa usaha untuk mengurangi evaporasi tanah telah dilakukan seperti penggunaan mulsa dan pengaturan populasi tanaman atau jarak tanam yang efisien. Usaha tersebut disertai dengan pemilihan kultivar yang mempunyai efisien transpirasi tinggi. Pada suatu areal pertanian, penyediaan air tanaman berasal dari curah hujan atau irigasi sedangkan kehilangan air dapat berupa drainase, limpasan permukaan( run off), evaporasi, dan transpirasi. Keseluruhan masukan(input) dan keluaran (output) air ini dapat dirumuskan sebagai neraca air.
4. Air yang berada pada lapisan atas dari zone aerasi disebut lengas tanah. Apabila kapasitas menahan air tanah pada zone aerasi telah dipenuhi, air akan bergerak kebawah menuju zone saturasi .dan air pada zone saturasi disebut air tanah. Diatas zone saturasi terdapat air kapiler, didalam gambar ditunjukkan dengan de¬retan garis garis vertikal. Air pada daerah kapiler ini mengisi ruang ruang pori yang kecil dan dapat berasal dari air tanah yang terangkat oleh gaya gaya kapiler.
5. Tanaman memerlukan air dalam jumlah yang berbeda beda menurut macam tanaman dan usia tanaman. Ditinjau dari segi reaksinya terhadap air (response), secara garis besar digolongkan menjadi tiga jenis (1) tanaman aquatik, (2) tanaman semi akuatik, misalnya padi sawah, (3) tanaman tanah kering. Kebutuhan air bagi tanaman agak kurang pada permulaan tumbuh dan kebutuhan itu besar pada saat berbunga dan berbuah dan menjadi kurang lagi pada saat buah masak. Pemberian air irigasi perlu disesuaikan dengan usia tanaman, dengan perhatian khusus pada masa-masa kritis. Untuk padi maka pada saat pertumbuhan vegetatif (sejak tumbuh tak termasuk reproduksi), kelembaban tanah yang dipandang baik adalah 30%. Tinggi genangan yang terlampau dalam berpengaruh kurang baik diantaranya menghambat pertumbuhan tunas-tunas anakan, walaupun juga punya pengaruh menekan pertumbuhan rumput pengganggu. Jadi tinggi genangan dipetak sawah perlu diatur.
6. Dalam konsep siklus hidrologi bahwa jumlah air di suatu luasan tertentu dipermukaan bumi dipengaruhi oleh besarnya air yang masuk ( input) dan keluar (output) pada jangka waktu tertentu. Neraca masukan dan keluaran air di suatu tempat dikenal sebagai neraca air (water balance). Dalam perhitungan neraca air lahan bulanan diperlukan data masukan yaitu curah hujan bulanan (CH), evapotranspirasi bulanan (ETP), kapasitas lapang (KL) dan titik layu permanen (TLP). Nilai -nilai yang diperoleh dari analisis neraca air lahan ini adalah harga-harga dengan asumsi -asumsi : (1) lahan datar tertutup vegetasi rumput, (2) lahan berupa tanah dimana air yang masuk pada tanah tersebut hanya berasal dari curah hujan saja dan (3) keadaan profil tanah homogen sehingga KL dan TLP mewakili seluruh lapisan dan hamparan tanah.
7. Komponen yang sulit dilakukan pengkuran ialah komponen evapotranspirasi karena banyaknya faktor faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi maka untuk menghitung laju evapotranspirasi dengan rumus rumus sebetulnya sangat sulit.
Sedangkan komponen yang mudah dilakukan pengukuran adalah komponen limpasan permukaan, dimana limpasan ini dapat dilihat dari besar kecilnya hujan turun kebumi, dan dari berapa besar lubang-lubang yang terisi oleh air.
8. Dengan cara menentukan laju penguapan dari permukaan tanah serta transpirasi dari tanaman adalah penting dalam analisis hidrologi, misalnya saja untuk mendesain dan mengoperasikan jaringan irigasi atau dalam analisis keseimbangan air dalam suatu daerah pengaliran sungai (DPS). Sulit dilakukan pemisahan air yang dihasilkan oleh penguapan dari permukaan tanah dan ditranspirasikan oleh tanaman. Oleh karena itu penguapan oleh transpirasi dalam analisis hidrologi umumnya dicakup dengan istilah evapotranspirasi.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Padi hibrida merupakan tanaman F1 yang berasal dari persilangan dua galur murni yang berbeda. Di beberapa negara tropis, padi hibrida memberikan hasil lebih tinggi 1-1,5 t/ha dibanding padi inbrida. Namun, tidak semua F1 pada padi hibrida dapat memberikan tingkat heterosis yang tinggi. Efek heterosis yang ada pada padi hibrida memberikan keunggulan dalam hal hasil dan sifat-sifat penting lainnya dibanding padi inbrida. Perbedaan lain antara hibrida dan inbrida adalah dalam perbanyakan benih. Petani harus selalu menanam benih F1 hibrida agar keunggulan yang ada dapat muncul. Benih F1 hibrida dapat diproduksi dengan berbagai cara, antara lain dengan menggunakan sistem galur mandul jantan (galur A). Dengan sistem ini diperlukan tiga tahap perbanyakan benih, yaitu: (1) perbanyakan benih galur A, (2) perbanyakan benih galur pelestari dan pemulih kesuburan (galur R), dan (3) produksi benih F1 padi hibrida.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam produksi benih untuk bahan penelitian padi hibrida dengan sistem galur mandul jantan, diantaranya adalah metode isolation free dan strict isolation. Pada metode isolation free, produksi benih antara dua kombinasi yang berbeda tidak dilakukan isolasi. Metode ini biasanya digunakan untuk memperoleh benih dalam jumlah tidak banyak tetapi kombinasi hibrida yang dibuat banyak, misalnya untuk pengujian persilangan atau observasi. Pada metode strict isolation, di antara dua kombinasi persilangan dilakukan isolasi jarak, selisih waktu tabur atau isolasi rintangan. Petak yang digunakan pada metode strict isolation lebih luas dibanding metode isolation free serta kombinasi hibridanya lebih sedikit. Metode ini digunakan untuk keperluan pengujian dalam skala luas, misalnya uji daya hasil pendahuluan dan uji multilokasi.
Hal lain yang penting dalam memproduksi benih F1 hibrida adalah sinkronisasi pembungaan antara galur mandul jantan (galur A) dan galur pemulih kesuburan (galur R).
1.2 Tujuan
• Untuk mengetahui teknik produksi benih
• Untuk mengetahui faktor-faktor yang harus diperhatikan pada produksi benih hibrida
• Mengetahui pengaturan tabur saat penanaman benih hibrida
• Mengetahui prediksi dan penyesuaian bunga
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teknik produksi benih
Padi hibrida yang merupakan tanaman F1 hasil persilangan antara GMJ (A) dengan galur pemulih kesuburan (R) hanya dapat ditanam satu kali, karena bila hasil panen hibrida ditanam lagi akan mengalami perubahan yang signifikan sebagai akibat adanya segregasi pada generasi F2 sehingga pertanaman tidak seragam dan tidak baik. Oleh karena itu benih F1 harus diproduksi dan petani juga harus selalu menggunakan benih F1.
Produksi benih padi hibrida mencakup dua kegiatan utama yaitu : produksi benih galur tetua dan produksi benih hibrida. Galur tetua meliputi GMJ, B, dan R. GMJ bersifat mandul jantan, produksi benihnya dilakukan melalui persilangan GMJ x B. Galur B dan R bersifat normal (fertil), produksi benihnya dilakukan seperti pada varietas padi inbrida. Benih hibrida diproduksi melalui persilangan GMJ dan R.
Padi hibrida juga berpotensi dikembangkan untuk dapat mengatasi kemandekan produktivitas padi saat ini. Padi hibrida dihasilkan melalui pemanfaatan fenomena heterosis turunan pertama (F1) dari hasil persilangan antara dua induk yang berbeda. Fenomena heterosis tersebut menyebabkan tanaman F1 lebih vigor, tumbuh lebih cepat, anakan lebih banyak, dan malai lebih lebat sekitar 1 t/ha lebih tinggi daripada Varietas unggul biasa (inbrida). Namun keunggulan tersebut, tidak diperoleh pada populasi generasi kedua (F2) dan berikutnya. Oleh karena itu produksi benih F1 dalam pengembangan padi hibrida memegang peran penting dan strategis. Ditinjau dari aspek genetik, PTB dan padi hibrida memiliki potensi hasil yang lebih tinggi, tetapi sistem dan teknologi produksinya berbeda dengan varietas unggul biasa.
2. 2 Faktor- faktor yang harus diperhatikan pada produksi benih padi hibrida
1. Pemilihan lokasi yang tepat, yaitu bersih dari benih-benih tanaman lain, bukan daerah endemik hama dan penyakit utama, tanah subur, cukup air, mempunyai sistem irigasi dan drainasi yang baik, dan tingkat keseragaman (homogenitas) tanah yang tinggi.
2. Kondisi yang cukup optimum, yaitu :
a. Suhu harian 20-30 derajat C
b. Kelembaban relatif 80%
c. Sinar matahari cukup (cerah) dan kecepatan angin sedang
d. Tidak ada hujan selama masa berbunga (penyerbukan)
3. Isolasi dari pertanian padi lainnya
Untuk menghindari terjadinya kontaminasi penyerbukan dari polen yang tidak diinginkan, areal pertanaman produksi benih harus diisolasi dari pertanaman padi lainnya. Ada 3 macam isolasi yaitu: isolasi jarak, isolasi waktu, dan isolasi penghalang fisik.
a. Isolasi jarak
Pada produksi benih F1 hibrida, isolasi jarak dengan pertanaman padi lainnya minimal 50 m, sedangkan pada produksi benih galur A minimal 100 m.
b. Isolasi waktu
Pada isolasi ini perbedaan waktu berbunga antara pertanaman produksi benih dengan tanaman padi disekitarnya minimal 21 hari.
c. Isolasi penghalang fisik
Pada isolasi ini dapat digunakan plastik sebagai penghalang dengan ketinggian 3 m.
4. Perbandingan jumlah baris antara tanaman A dan B pada perbanyakan galur A dan antara tanaman A dan R pada produksi benih F1.
a. Pada perbanyakan benih A, digunakan perbandingan baris tanaman 2B : 4-6A, dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Jarak tanam antar baris tanaman A terluar dengan baris tanaman B terluar adalah 30 cm. Jarak tanam didalam baris B adalah 20 cm.
b. Pada produksi benih F1 hibrida, digunakan perbandingan baris tanaman 2R : 8-12A, dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Jarak tanaman A terluar dengan baris tanaman R terluar adalah 30 cm. Jarak tanam didalam baris R adalah 20 cm.
5. Arah barisan tanaman
Untuk meningkatkan penyebaran polen, arah barisan tanaman galur A dan B atau R dibuat tegak lurus arah angin pada waktu pembungaan.
6. Pengelolaan tanaman
a. Perkecambahan benih
Untuk produksi benih seluas 1 ha diperlukan benih 15 kg galur A dan 5 kg galur B atau R.
• Rendam benih selama 24 jam
• Angin-anginkan benih selama 24 jam
• Tabur benih dengan kepadatan 50-75 g/m2 untuk galur A dan 100 m2 untuk galur B atau R.
b. Persiapan persemaiaan
• Lumpurkan tanah persemaian dua kali dengan interval satu minggu.
• Buat bedengan setinggi 5-10 cm, lebar 1 m dan panjang sesuai petakan sawah.
• Buat saluran pembuangan air dengan lebar 10 cm antar petak persemaian
• Berikan 5-6 g pupuk NPK per m2 yang diaduk dengan tanah.
• Berikan air setinggi 2-3 cm, dan keringkan sekali waktu untuk memperbaiki vigor (kekuatan) bibit.
• Tingkatkan permukaan air sampai 5 cm untuk menekan gulma
• Tingkatkan permukaan air sampai 5 cm untuk menekan gulma.
• Buang gulma (rumput-rumput) yang ada pada persemaian.
c. Pengolahan tanah
• Tanah diolah 15 hari sebelum penanaman bibit
• Pengolahan tanah dilakukan untuk memperoleh tingkat pelumpuran yang tinggi.
d. Penanaman
• Bibit berumur18-21 hari ditanam dengan jumlah bibit 1-2 batang per rumpun.
• Dosis pupuk yang diberikan adalah 135 kg N, 45 kg P, dan 45 kg K/ha.
7. Sinkronisasi, prediksi dan penyesuaian ewaktu berbunga
Hasil benih yang dicapai sangat dipengaruhi oleh sinkronisasi pembungaan antara galur A dengan B, atau antara galur A dengan galur R. Sinkronisasi pembungaan sangat diperlukan untuk terjadinya persilangan antar galur tetua. Sedangkan sinkronisasi pembungaan sangat dipengaruhi oleh lokasi, musim, kondisi lapang, cuaca, dan umur berbunga galur A, B, dan R.
Untuk memperoleh sinkronisasi pembungaan yang baik dapat ditempuh dengan a) pengaturan waktu tabur b) prediksi dan penyesuaian waktu berbunga.
2. 3 Pengaturan waktu tabur
• Produksi benih galur A
Pada umumnya, umur berbunga antara galur A dengan galur B hampir bersamaan. Untuk itu, benih galur A ditabur satu kali.
Benih galur B ditabur dua kali (B1 dan B2) dengan beda waktu 3 hari. Sebagai contoh, tanggal mulai tabur adalah tanggal 1. Benih A dan benih B1 ditabur pada tanggal 1, sedangkan benih B2 ditabur 3 hari setelah penaburan A1 dan B1. Penanaman dilakukan pada saat bibit galur B2 berumur 21 hari, sekaligus bibit A dan B1 yang berumur 18 hari. Bibit A ditanam pada barisan A, sedangkan bibit B1 dan B2 ditanam pada barisan B secara berselang seling dalam perbandingan baris 2B : 6A.
• Produksi benih F1 hibrida
Waktu persemaian galur A dan R disesuaikan dengan umur berbunganya. Sebagai contoh bila umur berbunganya. Sebagai contoh bila umur berbunga galur R lebih lambat 10 hari dari galur A. Benih galur R ditabur 10 hari lebih awal dari galur A. Penaburan galur R dilakukan minimal dua kali (R1 dan R2) dengan beda waktu tabur 3 hari. Penanaman A dan R dilakukan pada saat bibit tersebut berumur 18 – 21 hari. Pengaturan waktu tabur dapat dilihat pada skema dibawah ini.
2. 4 Prediksi dan penyesuaian waktu berbunga
• Prediksi waktu berbunga
Prediksai ini dapat dilakukan dengan cara mengamati terjadinya primodia bunga. Primordia bunga dimulai pada fase pembentukan anakan maksimum. Pembentukan bunga padi padi terdiri atas 10 fase inisiasi yang tingkatanya dapat diamati dan ditentukan berdasarkan panjang calon malai. Terjadinya primodia bunga bervariasi tergantung pada umur varietas, sedangkan waktu berbunga sama untuk semua varietas yaitu 30 harisetelah primordia bunga.
2. 5 Metode untuk menyesuaikan waktu pembungaan
Kasus 1
Tanaman R berada pada fase I, tanaman A berada pada fase III. Kondisi tersebut menyebabkan perbedaan waktu 5 – 6 hari. Solusinya adalah dengan memberikan larutan urea 2 % pada tanaman A dan larutan fosfat 1 % pada tanaman R.
Kasus 2
Tanaman A berada pada fase I, tanaman R berada pada fase IV. Perbedaan waktu berbunga antara A dan R 8 – 10 hari. Solusinya adalah memberikan urea 2 % pada tanaman R dan fosfat 1 % pada tanaman R.
Kasus 3
Tanaman A berada pada fase VI, tanaman R berada pada fase II. Keadaan tersebut menyebabkan perbedaan umur berbunga > 15 hari. Solusinya adalah membuang malai utama tanaman A dan semprotkan larutan urea 2 % pada tanaman A; serta semprotkan larutan fosfat 1 % pada tanaman R.
8. Roguing
Roguing atau membuang tanaman yang tidak diinginkan sangat berguna untuk meningkatkan kemurnian fisik dan genetik benih yang akan dipanen. Oleh karena itu, roguing harus dilakukan secara bertahap.
a. Pada saat pembentukan anakan maksimum
Pembuangan tanaman dilakukan tehadap penyimpangan tinggi tanaman, warna daun, ukuran daun, bentuk daun pelepah daun, warna batang, dan bentuk batang.
b. Pada saat berbunga
Pembuangan tanaman yang menyimpang antara lain berdasarkan pada kriteria umur berbunga yang terlalu cepat atau lambat, tanaman A yang tepung sarinya berwarna kuning dan atau pemunculan malainya sempurna, dan warna serta ukuran malai.
c. Menjelang panen
Pembuangan tanaman yang menyimpang dilakukan terhadap seed set yang tinggi (>50%) ukuran, bentuk, dan warna gabah
9. Pengguntingan daun bendera
Pengguntingan daun bendera ini dimaksudkan untuk memperlancar proses penyerbukan, terutama bagi tanaman yang memiliki posisi daun bendera tegak dan daunnya lebih panjang dari malai. Pengguntingan daun bendera dilakukan pada saat menjelang berbunga dan dengan cara menghilangkan sepertiga sampai setengah bagian panjang daun. Pengguntingan daun bendera juga dapat memperbaiki mikroklimat, sehingga dapat meningkatkan sinkronisasi pembungaan.
10. Polinasi (penyerbukan) tambahan
Penyerbukan tambahan ini dimaksudkan untuk meningkatkan persentase seed set. Caranya adalah dengan menggoyang – goyangkan tanaman B atau R ke arah tanaman A. Penggoyanagan ini dilakukan selama tanaman berbunga, dengan menggunakan tali atau bambu, dari pukul 10 hingga pukul 14 setiap 30 menit.
11. Panen
Untuk memudahkan proses pemanenan dan menjaga kemurnian benih, maka pada produksi benih A, tanaman B dipanen lebih dulu. Sedangkan pada produksi benih F1 hibrida, yang dipanen lebih dulu adalah tanaman R. Pada saat proses perontokan gabah, dijaga jangan sampai terjadi pencampuran antara benih A, B, F1, dan R. Setelah itu, benih dijemur selama 3 – 5 hari atau dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air 11 %.
2. 6 Perakitan Padi Hibrida
Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai pada tahun 1984 dan lebih diintensifkan
sejak 2001. Berbagai galur padi hibrida telah dihasilkan melalui persilangan dengan melibatkan galur mandul jantan sitoplasmik (CMS) atau galur mandul jantan (A), galur
pelestari (B), dan galur pemulih kesuburan (restorer, R).
Dari pengujian dan evaluasi galur tetua dan hibrida introduksi diperoleh beberapa
hibrida harapan. Pada awal tahun 2002, galur IR58025N BR827 dan IR58025NIR53942
masing-masing dilepas menjadi padi varietas Maro dan Rokan. Kedua varietas ini relatif
peka terhadap beberapa hama dan penyakit utama. Oleh sebab itu, pengembangannya perlu diarahkan pada lahan subur dengan pengairan terjamin dan bukan daerah endemik hama dan penyakit. Padi hibrida Rokan dan Maro telah diuji dalam kegiatan program penelitian dan pengkajian (Litkaji) PTT dibeberapa propinsi dan kemudian dikembangkan di 10 propinsi melalui Kegiatan Percontohan Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T) pada tahun 2002-2003.
BAB III
PENUTUP
Padi hibrida juga berpotensi dikembangkan untuk dapat mengatasi kemandekan produktivitas padi saat ini. Padi hibrida dihasilkan melalui pemanfaatan fenomena heterosis turunan pertama (F1) dari hasil persilangan antara dua induk yang berbeda. Fenomena heterosis tersebut menyebabkan tanaman F1 lebih vigor, tumbuh lebih cepat, anakan lebih banyak, dan malai lebih lebat sekitar 1 t/ha lebih tinggi daripada Varietas unggul biasa (inbrida).
Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai pada tahun 1984 dan lebih diintensifkan
sejak 2001. Dari pengujian dan evaluasi galur tetua dan hibrida introduksi diperoleh beberapa
hibrida harapan. Pada awal tahun 2002, galur IR58025N BR827 dan IR58025NIR53942
masing-masing dilepas menjadi padi varietas Maro dan Rokan. Kedua varietas ini relatif
peka terhadap beberapa hama dan penyakit utama.
DAFTAR PUSTAKA
Copeland. L.O. dan M.B. Mc. Donald. 1985. Principles of Seed Science and Technology. Burgess Publishing Company. New York. 369 p.
Damanhuri. T.S. Sudikno dan P. Yudono. 1993. Penurunan Kualitas Fisiologis dan Kimiawi Benih Kedelai dalam Penyimpanan. BPPS – UGM 6 (3B): 297-307.
Hamman. B. ; H. Halmajan and D.B. Egli. 2001. Sigle Seed Conductivity and Seedling Emergence in Soybean. Seed Science and Technology., 29. 575-586.
Fatchurrohim. M. 1975. Hubungan Pemupukan dengan Absorbsi Hara dan Produktivitas Kedelai. Seminar Lembaga Pusat Penelitian Pertanian. 6 Juni 1975. Hal. 4.
Maiwanto, 2003. Hubungan Antara Kandungan Lignin Kulit Benih dengan Permeabilitas dan Daya Hantar Listrik Rendeman Benih Kedelai. Jurnal Alta Agrosia 6(2)
Mugnisyah. W.Q. 1991. Strategi Teknologi Produksi Benih Kedelai untuk Mengatasi Deraan Cuaca Lapang. Makalah Penunjang Seminar Nasional Teknologi Benih III. Univ. Padjadjaran Bandung. 10 p.
Jumat, 09 Maret 2012
hmmm, ya tuhan...kenapa dengan ku ini??disaat ku mencintainya tapi kenapa dia bohong dengan ku??hmmm, apa aku harus memaafkannya...atau aku harus lupakannya? bener apa tidak, kalo dia cinta ma aku?memang dia selalu bilang "I love U" tapi tu belum cukup membuktikan...aku belum bisa percaya 100% bengan dia.. apa lagi setelah tahu kalo dia bohong denganku...
ya allah...salahkah aku berfikir seperti ini? tapi rasa ini sakit setelah tahu kebohongan itu...ndak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang...bingung...
aku bisa menerima kekuranganmu, aku bisa ngerti masalahmu...hmmmm
jangan sakiti aku buat kedua kali...
Langganan:
Komentar (Atom)